Follow us on Twitter

Cerpen

"Bi, kata Umi besok Syahd udah boleh masuk sekolah" tiba-tiba suara kecil itu membuyarkan konsentrasiku. Putri sulungku yang usianya baru menginjak lima tahun mendekat dan duduk di sampingku. Gurat kegembiraan tampak jelas di wajahnya.
Aku letakkan majalah Hidayatullah yang baru saja aku baca di atas meja.
"Memangnya Syahd udah siap jadi anak sekolah?" tanyaku sambil kubelai ubun-ubunnya.
Ia nyengir. Giginya yang belum rata tak malu ia tampakkan, seperti iklan pasta gigi di televisi.
"Insyaallah" jawabnya masih agak cedal mengucapkan lafzhul jalalah.
"Kalau begitu mulai besok, Syahd udah nggak boleh malas-malasan lagi. Syahd harus rajin-rajin belajar biar jadi anak pandai dan sholehah, karena Syahd sekarang udah gede, bukan kayak anak kecil lagi" tuturku membesarkan hatinya.
"Iya, nggak kayak Hammudi yang bisanya cuman tiduu..r melulu. Kalau nggak maen ya tidur. Kalau Syahd lagi belajar ngaji sama Umi, dia sukanya usil, gangguin Syahd melulu. Iiii..hh, Syahd sebel banget" cerocosnya polos.
"Hmmm… nggak boleh begitu. Hammud kan masih kecil, dia belum bisa belajar kayak kak Syahd. Nah, kak Syahd yang udah bisa ngaji harusnya nanti yang gantian ngajarin Hammud"

Selengkapnya...

Terdengar suara pintu ruang tamu diketuk. Entah siapa malam-malam begini bertamu. Pak Ahmad melirik ke jam dinding yang tergantung. Jam 20.00. Hening sunyi di kampung ini. Dibukanya pintu, terlihat beberapa anak muda dengan pakaian rapi. Tersenyum sambil mencium tangan Pak Ahmad.
“Assalaamu ‘alaikum Pak. Maaf kami mengganggu istirahat Bapak,” salah seorang di antara mereka memberi salam dengan santun.

“Wa ‘alaikum salam. Eeh… Anto, Udin, Johan. Mari masuk. Sudah lama kalian tak berkunjung kemari. Bagaimana kabar kalian? Baik-baik saja kan?”
“Alhamdulillah, atas doa Bapak kami tetap dalam lindungan Allah.”
Ketiga anak muda itu masuk dan duduk di bangku ruang tamu yang sudah memudar warnanya. Temaram lampu tak mampu menyembunyikan lubang-lubang yang mulai muncul di sana-sini. Ruang tamu yang sempit makin sesak dengan motor tua yang terparkir di sudut ruangan.
“Ada perlu apa kalian kemari. Bapak pikir kalian telah lupa dengan rumah ini. Kalian kemari saat masih SD dulu kan? O ya… kalian sudah kuliah di mana?”
“Anto di UI, Pak. Kuliah di arsitektur,” Udin mendahului sebelum Anto membuka mulut.
“Iya Pak. Saya sekarang di semester 6,” Anto membenarkan.

Selengkapnya...

“Gawat, Pak Parno. Gawat!” ujar Pak Hidayat pelan ketika jam istirahat.
“Apanya yang gawat, Pak!” kataku tenang. Aku tidak mau terbawa arus gosip. Aku hanya ingin mengajar dengan baik. Anak-anak dapat menguasai materi yang kuberikan dan mendapatkan nilai-nilai didik dari materi itu. Itu tugasku. Aku tak mau terlalu ikut campur dalam masalah manajemen sekolah.
“Wah, semua sudah keblinger, Pak. Sekolah ini sudah terlalu mengarah ke bisnis. Ingat, siswa-siswi kita itu dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Jadi kalau sampai anak-anak ditarik uang insidental setinggi itu, apa ya ndak kasihan. Apalagi prosedurnya menyalahi aturan,” ujar guru olah raga ini.
Aku sudah tahu arah pembicaraan Pak Hidayat. Dia pasti mempermasalahkan kebijakan kepala sekolah. Aku sudah mendengar sebelumnya dari Pak Suharto. Dan aku tak mau terjebak dalam perbincangan ini sebab aku hanya ingin mengajar dan mendidik muridku.
Memang, kadang kami sebagai guru tidak turut diajak memutuskan kebijakan yang menyangkut keuangan. Kami para guru, khususnya aku, tidak terlalu pusing dengan hal itu. Tapi khan mestinya, ini dibicarakan dengan komite sekolah. Komite sekolah harus mengundang orang tua. Lalu sekolah membeberkan program sekolah. Butuh dana berapa, sudah dapat sumber dana dari mana, lalu kekurangannya ditanggung orang tua. Rapat komite sekolah bersama orang tua wali muridlah yang memutuskan besar tarikan uang insidental, uang gedung, atau apalah namanya.
Tapi, ya itulah. Kenyataannya, sering aturan baku itu diterabas. Alasannya, kita khan menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah ini ya bebas tidak usah ikut aturan dari luar. Kita harus berkreasi bagaimana caranya agar kita dapat meningkatkan partisipasi orang tua. Salah satunya adalah partisipasi dalam hal dana.

Selengkapnya...

Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.

‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.

“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.
‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.
‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.

Selengkapnya...

Support Center

Dengan LiveZilla

livezilla_07_1