Cerpen
| 20 Februari 2010
"Bi, kata Umi besok Syahd udah boleh masuk sekolah" tiba-tiba suara kecil itu membuyarkan konsentrasiku. Putri sulungku yang usianya baru menginjak lima tahun mendekat dan duduk di sampingku. Gurat kegembiraan tampak jelas di wajahnya.
Aku letakkan majalah Hidayatullah yang baru saja aku baca di atas meja.
"Memangnya Syahd udah siap jadi anak sekolah?" tanyaku sambil kubelai ubun-ubunnya.
Ia nyengir. Giginya yang belum rata tak malu ia tampakkan, seperti iklan pasta gigi di televisi.
"Insyaallah" jawabnya masih agak cedal mengucapkan lafzhul jalalah.
"Kalau begitu mulai besok, Syahd udah nggak boleh malas-malasan lagi. Syahd harus rajin-rajin belajar biar jadi anak pandai dan sholehah, karena Syahd sekarang udah gede, bukan kayak anak kecil lagi" tuturku membesarkan hatinya.
"Iya, nggak kayak Hammudi yang bisanya cuman tiduu..r melulu. Kalau nggak maen ya tidur. Kalau Syahd lagi belajar ngaji sama Umi, dia sukanya usil, gangguin Syahd melulu. Iiii..hh, Syahd sebel banget" cerocosnya polos.
"Hmmm… nggak boleh begitu. Hammud kan masih kecil, dia belum bisa belajar kayak kak Syahd. Nah, kak Syahd yang udah bisa ngaji harusnya nanti yang gantian ngajarin Hammud"



